KASUS LIMBAH INDUSTRI MINAMATA
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses
produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat
bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air
kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik
lainnya (grey water).
Dampak yang ditimbulkan limbah industri adalah:
1. Limbah Industri Pangan
Sektor Industri/usaha kecil pangan yang mencemari lingkungan antara lain tahu,
tempe, tapioka dan pengolahan ikan (industri hasil laut). Limbah usaha kecil
pangan dapat menimbulkan masalah dalam penanganannya karena mengandung sejumlah
besar karbohidrat, protein, lemak, garam-garam, mineral, dan sisa-sisa bahan
kimia yang digunakan dalam pengolahan dan pembersihan. Sebagai contohnya limbah
industri tahu, tempe, tapioka industri hasil laut dan industri pangan lainnya,
dapat menimbulkan bau yang menyengat dan polusi berat pada air bila
pembuangannya tidak diberi perlakuan yang tepat.
Air buangan (efluen) atau limbah buangan dari pengolahan pangan dengan
Biological Oxygen Demand ( BOD) tinggi dan mengandung polutan seperti tanah,
larutan alkohol, panas dan insektisida. Apabila efluen dibuang langsung ke
suatu perairan akibatnya menganggu seluruh keseimbangan ekologik dan bahkan
dapat menyebabkan kematian ikan dan biota perairan lainnya.
2. Limbah Industri Kimia & Bahan Bangunan
Industri kimia seperti alkohol dalam proses pembuatannya membutuhkan air sangat
besar, mengakibatkan pula besarnya limbah cair yang dikeluarkan kelingkungan
sekitarnya. Air limbahnya bersifat mencemari karena didalamnya terkandung
mikroorganisme, senyawa organik dan anorganik baik terlarut maupun tersuspensi
serta senyawa tambahan yang terbentuk selama proses permentasi berlangsung.
Industri ini mempunyai limbah cair selain dari proses produksinya juga, air
sisa pencucian peralatan, limbah padat berupa onggokan hasil perasan, endapan
Ca SO4, gas berupa uap alkohol. kategori limbah industri ini adalah llimbah
bahan beracun berbahayan (B3) yang mencemari air dan udara. Gangguan terhadap
kesehatan yang dapat ditimbulkan efek bahan kimia toksik :
a)Keracunan yang akut
b)Keracunan kronis
3. Limbah Industri Sandang Kulit & Aneka
Sektor sandang dan kulit seperti pencucian batik, batik printing, penyamakan
kuit dapat mengakibatkan pencemaran karena dalam proses pencucian memerlukan
air sebagai mediumnya dalam jumlah yang besar. Proses ini menimbulkan air
buangan (bekas Proses) yang besar pula, dimana air buangan mengandung sisa-sisa
warna, BOD tinggi, kadar minyak tinggi dan beracun (mengandung limbah B3 yang
tinggi).
4. Limbah Industri Logam & Ekektronika
Bahan buangan yang dihasilkan dari industr besi baja seperti mesin bubut, cor
logam dapat menimbulkan pemcemaran lingkungan. Sebagian besar bahan
pencemarannya berupa debu, asap dan gas yang mengotori udarasekitarnya. Selain
pencemaran udara oleh bahan buangan, kebisingan yang ditimbulkan mesin dalam
industri baja (logam) mengganggu ketenangan sekitarnya. kadar bahan pencemar
yang tinggi dan tingkat kebisingan yang berlebihan dapat mengganggu kesehatan
manusia baik yang bekerja dalam pabrik maupun masyarakat sekitar.
Tetapi sekarang sudah ada limbah yang tidak merugikan lagi atau sudah dapat
dipakai untuk mandi dan sebagainya.
I. Latar Belakang
Penyakit minamata mendapat namanya dari kota Minamata, Prefektur Kumamoto di
Jepang, yang merupakan daerah penyakit ini mewabah mulai tahun 1958. Pada waktu
itu terjadi masalah wabah penyakit di kota Mintamana Jepang. Ratusan orang mati
akitbat penyakit yang aneh dengan gejala kelumpuhan syaraf. Mengetahui hal
tersebut, para ahli kesehatan menemukan masalah yang harus segera diamati dan
dicari penyebabnya. Melalui pengamatan yang mendalam tentang gejala penyakit
dan kebiasaan orang jepang, termasuk pola makan kemudian diambil suatu
hipotesis. Hipotesisnya adalah bahwa penyakit tersebut mirip orang yang
keracunan logam berat. Kemudian dari kebudayaan setempat diketahui bahwa orang
Jepang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi ikan laut dalam jumlah banyak. Dari
hipotesis dan kebiasaan pola makan tesebut kemudian dilakukan eksperimen untuk
mengetahui apakah ikan-ikan di Teluk Minamata banyak mengandung logam berat
(merkuri). Kemudian di susun teori bahwa penyakit tesebut diakibatkan oleh
keracunan logam merkuri yang terkandung pada ikan. Ikan tesebut mengandung
merkuri akibat adanya orang atau pabrik yang membuang merkuri ke laut.
Penelitian berlanjut dan akihirnya ditemukan bahwa sumber merkuri berasal dar
pabrik batu baterai Chisso. Akhirnya pabrik tersebut ditutup dan harus membayar
kerugian kepada penduduk Minamata kurang lebih dari 26,6 juta dolar.
II. Topik Utama
Penyakit minamata atau Sindrom minamata adalah sindrom kelainan fungsi saraf
yang disebabkan oleh keracunan akut air raksa. Gejala-gejala sindrom ini
seperti kesemutan pada kaki dan tangan, lemas-lemas, penyempitan sudut pandang
dan degradasi kemampuan berbicara dan pendengaran. Pada tingkatan akut, gejala
ini biasanya memburuk disertai dengan kelumpuhan, kegilaan, jatuh koma dan akhirnya
mati.
Merkuri atau Raksa atau Air raksa (Latin: Hydrargyrum, air/cairan perak) adalah
unsur kimia pada tabel periodik dengan simbol Hg dan nomor atom 80. Unsur
golongan logam transisi ini berwarna keperakan dan merupakan satu dari lima
unsur (bersama cesium, fransium, galium, dan brom) yang berbentuk cair dalam
suhu kamar. Raksa banyak digunakan sebagai bahan amalgam gigi, termometer,
barometer, dan peralatan ilmiah lain, walaupun penggunaannya untuk bahan
pengisi termometer telah digantikan (oleh termometer alkohol, digital, atau
termistor) dengan alasan kesehatan dan keamanan karena sifat toksik yang
dimilikinya. Unsur ini diperoleh terutama melalui proses reduksi dari cinnabar
mineral. Densitasnya yang tinggi menyebabkan benda-benda seperti bola biliar
menjadi terapung jika diletakkan di dalam cairan raksa hanya dengan 20%
volumenya terendam.
Minamata adalah sebuah desa kecil yang menghadap ke laut Shiranui, bagian
selatan Jepang sebagian besar penduduknya hidup sebagai nelayan, dan merupakan
pengkonsumsi ikan cukup tinggi, yaitu 286-410gram/hari. Tahun 1908 berdiri PT
Chisso dengan Motto “dahulukan Keuntungan” perkembangannya pada tahun 1932.
Industri ini berkembang dan memproduksi berbagai jenis produk dari pewarna kuku
sampai peledak. Dengan dukungan militer industri ini merajai industri kimia dan
dengan leluasa membuang limbahnya ke teluk Minamata diperkirakan 200-600 ton Hg
dibuang selama tahun 1932-1968. Selain merkuri limbah PT Chisso juga berupa
mangan, thalium dan selenium. Bencana mulai nampak pada tahun 1949 ketika hasil
tangkapan mulai menurun drastis ditandai dengan punahnya jenis karang yang
menjadi habitat ikan yang menjadi andalan nelayan Minamata.
Pada tahun 1953 beberapa ekor kucing yang memakan ikan dari teluk Minamata
mengalami kejang, menari-nari, dan mengeluarkan air liur beberapa saat kemudian
kucing ini mati. Tahun 1956 adanya laporan kasus gadis berusia 5 tahun yang
menderita gejala kerusakan otak, gangguan bicara, dan hilangnya keseimbangan
sehingga tidak dapat berjalan. Menyusul kemudian adalah adik dan empat orang
tetangganya. Penyakit ini kemudian oleh Dr. Hosokawa disebut sebagai Minamata
Desease. Pada tahun 1958 terdapat bukti bahwa penyakit minamata disebabkan oleh
keracunan Methyl-Hg, hal ini ditunjukkan dengan kucing yang mengalami kejang
dan disusul kematian setelah diberi makan Methyl-Hg.
Pada tahun 1960 bukti menyebutkan bahwa PT Chisso memiliki andil besar dalam
tragedi Minamata, karena ditemukan Methyl-Hg dari ekstrak kerang dari teluk
Minamata. Sedimen habitat kerang tersebut mengandung 10-100 ppm Methyl-Hg,
sedangkan di dasar kanal pembuangan pabrik Chisso mencapai 2000 ppm. pada tahun
1968 pemerintah secara resmi mengakui bahwa pencemaran dari pabrik Chisso
sebagai sumber penyakit minamata. Penyakit ini ternyata juga ditemukan pada
janin bayi. Penyakit ini ternyata menurun secara genetis sehingga keturunnya
dipastikan akan menidap penyakit minamata, sehingga orang-orang disana tidak
mau mengakui bahwa mereka berasal dari Minamata karena takut tidak ada orang
yang mau menjadi jodohnya.
Tahun 1959 merupakan tahun yang penting, baik bagi para penderita penyakit
Minamata maupun terhadap riwayat penelitian dari penyakit tersebut. Merkuri,
yang telah dicurigai sebagai penyebab sejak sekitar September 1958, mengundang
lebih banyak perhatian lagi. Tanggal 19 Februari 1959, Tim Survei Penyakit
Minamata/Keracunan Makanan dari Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan
mengumumkan pentingnya penelitian terhadap distribusi merkuri pada Teluk
Minamata. Tim ini dibentuk pada Januari 1959 sebagai tim penelitian di bawah
Kementerian Kesehatan Masyarakat, semua anggotanya berasal dari Kelompok
Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Kumamoto. Sebagai hasil survey
tersebut, terungkap sebuah fakta yang mengejutkan. Disebutkan, kadar merkuri
yang sangat tinggi dideteksi pada tubuh ikan, kerang-kerangan, dan lumpur dari
Teluk Minamata yang dikumpulkan pada saat terjadinya penjangkitan Penyakit
Minamata.
Secara geografi, merkuri ditemukan dalam konsentrasi tertingginya di sekitar
mulut kanal pembuangan pabrik Chisso dan kadarnya menurun pada jarak yang jarak
semakin jauh ke laut lepas. Data tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa
merkuri berasal dari kanal pembuangan pabrik dalam lumpur (masyarakat
menyebutnya dobe) sekitar mulut saluran pembuangan di Hyakken, dua kilogram
merkuri per ton, seakan tempat tersebut merupakan tambang merkuri. Wajar jika
kemudian kelompok penelitian yang melakukan studi di tempat tersebut dibuat
terkejut. Kelak, sebuah cabang baru perusahaan Chisso ”Minamata
Chemicals”dibuat khusus untuk mengklaim merkuri yang terdapat di dalam Teluk
Minamata, maka Pantai Minamata memang telah menjadi sebuah tambang
merkuri.Konsentrasi merkuri yang tinggi tidak hanya ditemukan di Teluk
Minamata. Kadar yang tinggi juga ditemukan pada rambut warga yang tinggal di
sepanjang Laut Shiranui, khususnya di distrik Minamata. Setelah dibandingkan
dengan penduduk di kota Kumamoto. Level tertinggi dari merkuri yang dideteksi
pada rambut penderita penyakit Minamata adalah 705 ppm, jumlah tertinggi dari
warga Minamata yang sehat adalah 191 ppm, dan mereka yang tinggal di luar areal
Minamata adalah sekitar 4,42 ppm. Kadar merkuri yang besar juga dideteksi pada
air seni penderita Penyakit Minamata, berkisar antar 30-120 gamma per hari.
Konsentrasi merkuri yang tinggi ditemukan pada ikan dan kerang-kerangan yang
berasal dari Teluk Minamata, dan menyebabkan Penyakit Minamata pada tikus dan
kucing percobaan. Mereka memiliki kandungan merkuri antara 20-40 ppm, yang
memperkuat dugaan bahwa merkuri telah menyebar luas pada area Laut Shiranui.
Standar nasional merkuri yang diperbolehkan di lingkungan saat ini adalah 1,0
ppm.
Tingkat merkuri yang tinggi juga ditemukan pada organ-organ mayat penderita
penyakit Minamata dan dalam organ kucing, baik yang secara alami, maupun yang
mengalaminya karena dalam percobaan diberi makan ikan dan kerang-kerangan dari
Teluk Minamata. Ditemukannya kadar merkuri yang tinggi pada rambut penduduk di
distrik ini menunjukkan mereka-orang dewasa, bayi, anak-anak dan ibu
mereka-semua terkontaminasi merkuri berat, dengan atau tanpa adanya gejala
dengan mereka. Jika masalah ini ditanggapi dengan baik, mungkin dapat
meramalkan datangnya perjangkitan Penyakit Minamata yang laten. Sebelum
kasus-kasus pasien dengan omset yang lambat dan gejala-gejala laten menjadi
masalah serius seperti sekarang ini. Meski demikian, dalam kenyataannya,
kandungan merkuri pada rambut tidak dianggap sebagai faktor menentukan dalam
menegakkan diagnosa Penyakit Minamata, dan meletakkan garis batas bahwa
kandungan merkuri pada rambut penduduk adalah tinggi, baik pasien ataupun
bukan. Jadi, di sini juga terjadi suatu kesalahan dalam memanfaatkan data yang
ada. Meski harus diakui, Kelompok Penelitian telah mengumpulkan data-data yang
berguna menyangkut Penyakit Minamata dan merkuri.
Pada 22 Juli 1959, Kelompok Penelitian Penyakit Minamata mengambil kesimpulan
di akhir penemuan: ”Penyakit Minamata merupakan suatu penyakit neurologis yang
disebabkan oleh konsumsi ikan dan kerang-kerangan lokal, dan merkuri telah
menarik perhatian besar sebagai racun yang telah mencemari ikan dan
kerang-kerangan.” Teori Merkuri Organik.
Tanggal 12 November 1959, anggota Komite Dewan Investigasi Makanan dan Sanitasi
Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan memaparkan laporan berikut ini kepada
menteri berdasarkan laporan oleh Tim Survei Keracunan Makanan/Penyakit
Minamata. Penyakit Minamata adalah suatu penyakit keracunan yang utamanya
mempengaruhi sistim saraf pusat akibat mengkonsumsi ikan dan kerang-kerangan
dari Teluk Minamata dan sekitarnya dalam jumlah besar, dimana agen penyebab
utamanya adalah semacam campuran merkuri organik. Jadi, dalam hal ini merkuri
organik secara resmi diumumkan sebagai substansi penyebab Penyakit Minamata.
Walau begitu, tanggal 13 November, di hari berikutnya, Tim Survei Penyakit
Minamata/Keracunan Makanan dari Dewan Investigasi Makanan dan Sanitasi
dibubarkan secara resmi oleh Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan.
Sementara itu, Dr. Leonard T. Kurland (NIH USA) mengunjungi Minamata pada
September 1958 dan memeriksa beberapa pasien. Ia mengambil beberapa contoh
makanan dari laut, air laut dan lumpur untuk dibawa ke Amerika dan dianalisa.
Ia menulis sebuah artikel pada sebuah surat kabarAsahi Shinbun dan Mainiji
Shinbun tanggal 8 Desember 1959, yang memperkuat kesimpulan yang dibuat oleh
Universitas Kumamoto bahwa substansi penyebab dari Penyakit Minamata adalah
merkuri organik.
Sebelum ditemukan bahwa merkuri merupakan penyebab dari penyakit minamata,
banyak teori yang muncul dari berbagai peneliti mengenai penyebab dari penyakit
minamata ini. Adapun teori-teori tersebut antara lain:
• Teori Mangan
September 1956, beredar sebuah isu di Minamata bahwa kemungkinan mangan
merupakan penyebab utamanya. Sumber dari berita ini adalah Kelompok Peneliti
Kumamoto. Mangan wajar dicurigai sebagai substansi penyebab, karena kelainan
pada sistem ekstrapiramidal ditetapkan sebagai salah satu gejala klinis yang
khas, ditambah lagi bila ada alterasi pada gangguan basalis. Mangan juga
merupakan suatu kemungkinan yang logis karena kandungannya ditemukan pada air
laut, air limbah, ikan, kerang, dan juga dalam organ-organ dalam penderita
dalam jumlah besar. Secara resmi, mangan diumumkan sebagai penyebab yang
dicurigai pada tanggal 4 November 1956, pada konferensi pertama yang diadakan
Kelompok Peneliti Penyakit Minamata untuk melaporkan temuan mereka.
• Teori Thallium
Pada Mei 1958, diperkenalkan sebuah teori baru, yang mengajukan thallium
sebagai penyebab. Hal ini terjadi karena thallium ditemukan dalam jumlah besar
(300 ppm) pada limbah dan pembuangan pabrik di Teluk Minamata. Thallium yang
secara eksperimental sangat beracun, ditemukan terkandung dalam debu yang
dihasilkan oleh Cottreli precipitator yang digunakan dalam produksi asam sulfur
di pabrik.Namun setelah diadakan penelitian lebih lanjut ternyata gejala
penyakit akibat thallium, cukup berbeda dengan penyakit Minamata. Sehingga
teori thallium tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
• Teori Selenium
Bulan April 1957, teori selenium sebagai penyebab utama diperkenalkan oleh
Profesor Kitamura, mengingat sejumlah besar selenium ditemukan pada cairan
limbah yang dibuang oleh pabrik di teluk minamata. Secara klinis, gangguan
penglihatan dan ginjal akibat keracunan selenium terlihat lebih signifikan jika
dibandingkan dengan penyakit Minamata. Namun, pada keracunan selenium, lesi
pada sel korteks otak jarang ditemukan dan perwujudan klinisnya terbatas pada
bergugurannya rambut dan memberatnya gejala-gejala umum. Dengan demikian, teori
selenium akhirnya ditolak. Kecurigaan Pada Merkuri
IV. Kerugian
Hingga 30 April 1997, jumlah penduduk Propinsi Kumamoto dan Kagoshima yang
menyatakan diri sebagai korban Minamata disease berjumlah lebih dari 17.000
orang. Sebanyak 2264 diantaranya telah diakui oleh Pemerintah dan 1408
diantaranya telah meninggal sebelum 31 Oktober 2000. Penyakit Minamata terjadi
akibat banyak mengkonsumsi ikan dan kerang dari Teluk Minamata yang tercemar
metil merkuri. Penyakit Minamata bukanlah penyakit yang menular atau menurun
secara genetis.
Pada tahun 1968 pemerintah Jepang menyatakan bahwa penyakit ini disebabkan oleh
pencemaran pabrik Chisso Co., Ltd. Metil merkuri yang masuk ke tubuh manusia
akan menyerang sistem saraf pusat. Gejala awal antara lain kaki dan tangan
menjadi gemetar dan lemah, kelelahan, telinga berdengung, kemampuan penglihatan
melemah, kehilangan pendengaran, bicara cadel dan gerakan menjadi tidak
terkendali. Beberapa penderita berat penyakit Minamata menjadi gila, tidak
sadarkan diri dan meninggal setelah sebulan menderita penyakit ini. Penderita
kronis penyakit ini mengalami gejala seperti sakit kepala, sering kelelahan,
kehilangan indra perasa dan penciuman, dan menjadi pelupa. Meskipun gejala ini
tidak terlihat jelas tetapi sangat mengganggu kehidupan sehari-hari. Selain itu
yang lebih parah adalah penderita congenital yaitu bayi yang lahir cacat karena
menyerap metil merkuri dalam rahim ibunya yang banyak mengkonsumsi ikan yang
terkontaminasi metil merkuri. Ibu yang mengandung tidak terserang penyakit
Minamata karena metil merkuri yang masuk ke tubuh ibu akan terakumulasi dalam
plasenta dan diserap oleh janin dalam kandungannya.
Panyakit Minamata tidak dapat diobati, sehingga perawatan bagi penderita hanya
untuk mengurangi gejala dan terapi rehabilitasi fisik. Disamping dampak
kerusakan fisik, penderita Minamata juga mengalami diskriminasi sosial dari
masyarakat seperti dikucilkan, dilarang pergi tempat umum dan sukar mendapatkan
pasangan hidup. Hingga April 30 April 1997, jumlah penduduk Propinsi Kumamoto
dan Kagoshima yang menyatakan diri sebagai korban Minamata disease berjumlah
lebih dari 17.000 orang. Sebanyak 2264 diantaranya telah diakui oleh Pemerintah
dan 1408 diantaranya telah meninggal sebelum 31 Oktober 2000. Disamping itu
10.353 yang telah resmi dinyatakan sebagai penderita atau korban Minamata
menerima ganti rugi sebagai kompensasi, sehingga jumlah penderita penyakit
Minamata akibat keracunan merkuri dilaporkan sekitar 12.617 orang. Akan tetapi
jumlah sesungguhnya masih belum diketahui secara pasti karena ada sebagian
korban yang telah meninggal dunia sebelum dikeluarkannya pernyataan resmi oleh
pemerintah dan terdapat pula sebagian korban yang enggan melapor karena malu.
Penyakit ini tidak hanya terjadi di Minamata. Tahun 1965 penyakit Minamata
menyerang warga yang tinggal di sepanjang Sungai Agano di Kota Niigata akibat
pembuangan limbah merkuri oleh Showa Denko. Penyakit ini dikabarkan juga
terjadi di China dan Kanada. Sungai dan danau di Amazon dan Tanzania juga
tercemar merkuri dan menimbulkan masalah kesehatan yang mengkhawatirkan.
V. Penyelesaian
Pada kasus minamata pemerintah jepang mengawasi dengan ketat tentang pembuangan
limbah dari industri yang dapat berdampak mencemari lingkungan dan mahluk hidup
yang ada disekitarnya serta menindak dengan tegas apabila ada industri yang
nakal agar tidak terjadi bencana pada kasus minamata tersebut. Pada
industri-industri yang menggunakan bahan baku air raksa dan merkuri sebisa
mungkin mengganti bahan baku tersebut dengan bahan baku pengganti yang aman
untuk kesehatan dan lingkungan hidup sekitaranya. Pemilihan bahan baku yang
ramah lingkungan sangat diperlukan. Selain itu tata cara pembuangan limbah
berbahaya harus dipatuhi.
Sumber
: Mentorhealthcare
Kasus tragedi
Minamata, diMinamata provinsi Kumamoto dan Kagoshima.
Dampak:
Pencemaran
lingkungan daerah tersebut dengan zat kimia Methyl Mercury, Pencemaran penyakit
oleh zat kimia tersebut pada tubuh enduduk dan bahkan menyebabkan kematian.
Kasus ini juga terjadi di Teluk Buyat.
Etika Profesi
Etika berasal
dari kata ethos dari bahasa Yunani yang berarti karakter, watak, kesusilaan tau
ada. Etika berkaitan dengan konsep yang dimiliki indiidu ataupun kelompok untuk
menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakan salah atau benar, juga
baik atau buruk.
Sehingga, dapat
disimpulkan etika adalah refleksi dari apa yang disebut batasan-batasan untuk
manusia dalam melakukan tindakan.
Sedangkan profesi
menurut De George adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk
menghasilakan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.
Etika profesi
sendiri dapat diartikan yaitu etika yang berada dalam bidang khusus atau
terapan, yaitu etika yang mengatur dalam profesi seseorang dalam melakukan
pekerjaannya.
Jadi, Etika
profesi dalam bidang industri adalah keseluruhan tuntutan moral yang harus
ada dalam pelaksanaan sebuah profesi keindustrian.
Sederhananya,
etika profesi adalah segala aturan dan norma yang nantinya mengatur segala tindakan
ataupun keputusan yang dilakukan oleh seorang teknik.
Alasan
perlunya etika profesi dalam bidang keindsutrian adalah dengan adanya etika profesi seorang
teknik akan memiliki batasan dalam bertindak sehingga akan lebih
memprtimbangkan segala tindakannnya dalam rangka kesejahteraan dan ketentraman
hidup orang banyak.
Seorang teknik
yang mempunyai etika profesi yang baik tentunya akan bertanggung jawab atas
tindakan yang ia lakukan. Selain itu, dapat menjaga kelakukan dan kejujuran
atas apa yang dilakukannya. Sehingga apa yang dilakukannya semata-mata
dilakukan bukan hanya untuk mendapat kan keuntungan tapu juga untuk mendapatkan
kesejahteraan dan kemakmuran hajat hidup oarang banyak.
Apabila profesi keindustrian tanpa etika yang terjadi banyak pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh seorang teknik dalam industri. Seorang pekerja tidak memiliki rasa sadar dan tanggung jawab atas pekerjaannya, dimana etika tersebut sangat berpengaruh terhadap hasil pekerjaan yang akan diperoleh. Maka etika profesi dalam bidang keteknikan sangat diperlukan untuk mengetahui tuntutan pekerjaan atau rasa tanggung jawab saat bekerja, mampu bekerja sama dan mempunyai motivasi dalam bekerja. Maka etika sangatlah penting dalam bidang keteknikan guna untuk mencapai hasil kerja yang baik.dan
hal itu akan banyak merugikan kehidupan orang banyak.
Misalnya saja,
bencana alam.
Hal-hal lain yang
terjadi misalnya:
a. Penurunan
tingak kepercayaan masyarakat kepada seorang teknik tersebut.
b. Pemboikotan
produk hasil ciptaan seorang teknik tersebut.
c. Pencabutan
kode etik profesinya.
d. Penundaan
proyek karena merugikan masyarakat.
Sumber:
Sumber : Mentorhealthcare
· Materi Kuliah Etika & Profesi Teknik Informatika oleh : Dr. Budi Hermana.
· http://www.slideshare.net/TaMimRouf/pengertian-etika-profesi
· http://anahuraki.lecture.ub.ac.id/pengertian-etika
· http://id.wikipedia.org/wiki/Profesi
· http://rizafahri.blogspot.com/2011/02/ciri-khas-profesi-profesional.html
· http://tanudjaja.dosen.narotama.ac.id/2012/02/06/pengertian-etika-moral-dan-etiket/
· http://etikaprofesidanprotokoler.blogspot.com/2008/03/kode-etik-profesi.html
· http://pakarcomputer.blogspot.com/2012/02/pengertian-profesi-menurut-para-pakar.html
http://yusuflife.blogspot.com/2013/04/pengertian-etika-profesi.html
http://nuhazkiyah.blogspot.com/2012/11/definisi-profesi_5.html
http://carapedia.com/pengertian_definisi_profesi_info2177.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Profesi
http://etikaprofesidanprotokoler.blogspot.com/2008/03/
http://ms.wikipedia.org/wiki/Profesionalisme
Pengertian Etika dan Profesi Hukum. Jombang: WKPA. Widaryanti. 2007. Etika Bisnis dan Etika Profesi Akuntan (Business Ethics and Accountant Professional Ethics). Vol. 2 No. 1 Juni 2007 : 1-10.
snanto, Rizal. 2009. Buku Ajar Etika Profesi. Semarang: Universitas Diponegoro,Mariyana, Rita. Etika Profesi Guru. Qohar, Adnan.
https://dwijim.files.wordpress.com/2012/06/catatan-kuliah-etprof.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28268/4/Chapter%20II.pdf
http://duniabaca.com/pengertian-etika-dan-macam-macamnya.html
http://normaetikaprofesi.blogspot.com/2013/03/pengertian-profesi-menurut-beberapa.html
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/
http://thisisfirman.blogspot.com/2012/03/etika-profesi-kode-etik.html
trimakasih artikelnya bagus sangat membantu,sukses selalu.
BalasHapusThe Best Casino for Beginners | Best Casino for Beginners
BalasHapusThe Best Casino for Beginners · Slots · 토토 사이트 Table Games · Bingo · Poker · Slot Games · 윈 조이 포커 Table Games. In this article, we've 온라인바카라 got all the basics 메종프란시스커정바카라루쥬오드퍼퓸 of a casino to help you. · 벳 매니아 Banking.